Senin, 19 Juli 2021

"PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI" ENZIM BAGI PERTUMBUHAN SISWA

Dalam biokimia dijelaskan bahwa enzim adalah biokatalisator yang dapat mempercepat terjadinya reaksi. Enzim bersifat selektif yang artinya hanya dapat mempercepat reaksi tertentu dan hanya dapat bekerja untuk substrat tertentu. 

Dalam pembelajaran, diferensiasi dapat dikatakan sebagai enzim dalam pertumbuhan siswa karena dapat mempercepat tumbuhnya potensi yang dimiliki siswa. Selain itu pembelajaran berdiferensiasi bekerja selektif dimana jika setiap siswa mendapatkan enzim (diferensiasi) yang sesuai maka reaksi menuju tumbuhnya potensi melintasi meknisme reaksi yang tepat sehingga lebih cepat terbentuknya produk (tumbuhnya potensi siswa).  

Pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan siswa. Keputusan-keputusan yang dibuat tersebut adalah yang terkait dengan: 

  1. Kurikulum yang memiliki tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas. Jadi bukan hanya guru yang perlu jelas dengan tujuan pembelajaran, namun juga muridnya.
  2. Bagaimana guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar muridnya. Bagaimana ia akan menyesuaikan rencana pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan belajar murid tersebut. Misalnya, apakah ia perlu menggunakan sumber yang berbeda, cara yang berbeda, dan penugasan serta penilaian yang berbeda.
  3. Bagaimana mereka menciptakan lingkungan belajar yang “mengundang’ murid untuk belajar dan bekerja keras untuk mencapai tujuan belajar yang tinggi. Kemudian juga memastikan setiap murid di kelasnya tahu bahwa akan selalu ada dukungan untuk mereka di sepanjang prosesnya.
  4. Manajemen kelas yang efektif. Bagaimana guru menciptakan prosedur, rutinitas, metode yang memungkinkan adanya fleksibilitas. Namun juga struktur yang jelas, sehingga walaupun mungkin melakukan kegiatan yang berbeda, kelas tetap dapat berjalan secara efektif.
  5. Penilaian berkelanjutan. Bagaimana guru tersebut menggunakan informasi yang didapatkan dari proses penilaian formatif yang telah dilakukan, untuk dapat menentukan murid mana yang masih ketinggalan, atau sebaliknya, murid mana yang sudah lebih dulu mencapai tujuan belajar yang ditetapkan.
Pembelajaran berdiferensiasi adalah pembelajaran yang berpihak pada anak, pembelaran untuk semua siswa di kelas kita. Sebagai seorang pemimpin pembelajaran, pertama-tama guru memetakan kebutuhan seluruh siswa baik itu dari segi kesiapan belajar, minat, dan profil belajar siswa. 
  1. Kesiapan belajar (readiness) adalah kapasitas untuk mempelajari materi baru.  Kesiapan belajar murid bukanlah tentang tingkat intelektualitas (IQ). Hal ini lebih kepada informasi tentang apakah pengetahuan atau keterampilan yang dimiliki murid saat ini, sesuai dengan keterampilan atau pengetahuan baru yang akan diajarkan.  Tujuannya adalah untuk memodifikasi tingkat kesulitan pada bahan pembelajaran, sehingga dipastikan murid terpenuhi kebutuhan belajarnya 
  2. Minat adalah salah satu motivator penting bagi murid untuk dapat ‘terlibat aktif’ dalam proses pembelajaran. Ada murid yang minat nya sangat besar dalam bidang seni, matematika, sains, drama, memasak, dsb. Pentingnya mempertimbangkan minat dalam pembelajaran adalah untuk membantu murid menyadari bahwa ada kecocokan antara sekolah dan keinginan mereka, menunjukkan keterhubungan antara semua pembelajaran, dan menggunakan keterampilan atau ide yang familiar  sebagai jembatan untuk mempelajari ide atau keterampilan yang kurang familiar atau baru bagi mereka. 
  3. Profil belajar murid terkait dengan banyak faktor, seperti: bahasa, budaya, kesehatan, keadaan keluarga, dan kekhususan lainnya. Selain itu juga akan berhubungan dengan gaya belajar seseorang. Berikut ini faktor yang dapat mempengaruhi pembelajaran seseorang. 

    • Lingkungan: suhu, tingkat aktivitas, tingkat kebisingan, jumlah cahaya.
    • Pengaruh Budaya: santai - terstruktur, pendiam - ekspresif, personal - impersonal.
    • Visual: belajar dengan melihat (diagram, power point, catatan, peta, grafik organisator).
    • Auditori: belajar dengan mendengar (kuliah, membaca dengan keras, mendengarkan musik).
    • Kinestetik: belajar sambil melakukan (bergerak dan meregangkan tubuh, kegiatan hands on, dsb).
Selanjutnya guru menentukan strategi diferensiasi yang perlu dilakukan dalam pembelaran, apakah itu diferensiasi konten, diferensiasi proses atau diferensiasi produk, semua itu tergantung apa kebutuhan siswa dan kebutuhan mana yang harus dipenuhi terlebih dahulu.
  1. Diferensiasi konten merujuk pada strategi membedakan pengorganisasian dan format penyampaian konten. Konten adalah materi pengetahuan, konsep, dan keterampilan yang perlu dipelajari murid berdasarkan kurikulum.
  2. Diferensiasi prose merujuk pada strategi membedakan proses yang harus dijalani oleh murid yang dapat memungkinkan mereka untuk berlatih dan memahami isi (content) materi.
  3. Diferensiai produk merujuk pada strategi memodifikasi produk hasil belajar murid, hasil latihan, penerapan, dan pengembangan apa yang telah dipelajari.
Layaknya struktur enzim yang fleksibel, maka guru pun harus fleksibel dalam penerapan diferensiasi di dalam kelas karena diferensiasi adalah suatu keputusan "masuk akal" bukan impian menggebu-gebu dan super sempurna. Pembelajaran berdiferensiasi akan menjadi sempurna seiring konsistensi seorang guru dalam penerapannya. Saat dilakukan terus-menerus, niscaya guru akan sampai pada tahap autopilot. Makin baik lagi ketika guru mengajak rekannya untuk ikut menerapkan pembelajaran berdiferensiasi sampai akhirnya tercipta gelombang pergerakan menuju tumbunya potensi siswa yang maksimal dan tercapainya visi sekolah. 

Selasa, 29 Juni 2021

PENTINGNYA BUDAYA POSITIF SEKOLAH

  

Budaya positif adalah kebiasaan-kebiasaan positif yang berlangsung di sekolah secara konsisten dan berkesinbambungan. Budaya positif sangat penting bagi sekolah karena dapat menciptakan budaya ajar yang baik. Saling menghormati antar warga sekolah, suasana kelas yang nyaman, siswa yang aktif, dan dipenuhi dengan aura positif.  Lebih jauh lagi tumbuhnya budaya positif akan dapat mengantarkan sekolah menuju Visi Sekolah. 

Budaya positif adalah kebiasaan positif sehari-hari yang terus berlangsung setiap hari secara konsisten. Nilai sehari-hari seperti sopan santun, saling menghormati dan nilai lain yang diterapkan dalam belajar mengajar ataupun dalam pergaulan di sekolah itulah sesungguhnya yang termasuk ke dalam budaya positif sekolah. 

Dalam mencapai budaya ajar atau mencapai visi sekolah tentunya budaya positif tidak dapat berdiri sendiri. Budaya positif memiliki keterkaitan dengan filosofi pendidikan KHD, nilai guru penggerak dan visi guru penggerak. Guru adalah salah satu tokoh kunci dalam penumbuhan budaya positif sekolah. Pertama-tama seorang guru harus memahami filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara. Guru menuntun tumbuhnya kodrat anak dengan memberi keteladanan tentang kebiasaan positif. Guru menjaga tumbuhnya anak-anak dalam lingkungan yang positif layaknya seorang petani yang menjaga tumbuhnya tanaman. Guru menghamba pada anak sekaligus mencerminkan nilai berpihak pada anak dengan mengajak anak-anak membuat kesepakatan tentang kebiasaan positif yang dilakukan di kelas atau di sekolah.

Seorang guru yang menginternalisasi nilai guru penggerak dan memiliki visi guru penggerak tentunya akan tergerak untuk membangun budaya positif sekolah. Mulai dari dirinya sendiri terlebih dahulu, selanjutnya bergerak ke dalam kelas yang diajarnya, menularkan kepada rekan sejawatnya kemudian bersama-sama membangun budaya postif sekolah. Pendekatan apresiatif BAGJA dapat digunakan dalam menumbuhkan budaya positif bersama siswa, sekaligus untuk mewujudkan visi sekolah. 

Penumbuhan budaya positif di dalam kelas dapat dilakukan dengan pembuatan kesepakatan kelas oleh guru bersama muridnya. Di awal ditentukan pula konsekuensi yang akan diterima jika melanggar kesepakatan kelas tersebut. Lama-kelamaan dengan kosistensi penerapan kesepakatan kelas maka akan tumbuh kesadaran dalam diri siswa dan tumbuhlah budaya positif di kelas. Praktek baik tersebut seyogyanya tidak dilakukan sendiri oleh guru penggerak tapi ditularkan pula kepada rekan guru yang lainnya sehingga semua guru di tiap kelasnya membuat kesepakatan kelas. Ketika seluruh guru dan siswa sudah menumbuhkan budaya positif di lingkungan kelas maka saat itu dapat dikatakan sudah tumbuh budaya positif di sekolah.
    

Rani Pujiastuti
CGP Angkatan 2 Kab. Tabanan
    

Jumat, 25 Juni 2021

Memulai Langkah Bersama dengan Kata "Sepakat"

Sepakat diartikan sebagai setuju; semufakat; sependapat (KBBI). Dalam memulai kelas pun kita harus mulai dengan suatu kesepakatan. 

Kenapa ? 

Karena kesepakatan adalah hal yang disusun oleh dua belah pihak yang akan bekerja bersama-sama  yang akan berjalan di rel yang sama.  Selanjutnya dijalankan bersama-sama oleh kedua belah pihak dan siap menerima konsekuensinya ketika ada yang melanggar kesepakatan tersebut. 

Kesepakatan kelas adalah cara yang dapat digunakan oleh guru bersama siswanya untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapakan. Pastinya setiap guru dan siswa mendambakan suasana belajar yang nyaman, bahagia, dan saling menghormati. Guru dan siswa disiplin serta bertanggung jawab dalam setiap tindakannya. Dengan menyusun suatu kesepakatan diharapkan setiap orang akan memiliki motivasi dari dalam dirinya untuk mencapai tujuan tanpa adanya rasa paksaan. 

Langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam menyusun kesepakatan kelas adalah memulai dengan mengkomunikasikan kepada siswa bahwa kita akan mengajak siswa membuat kesepakatan kelas melalui ruang tatap maya (masa pandemi). Setelah siswa memberikan respon dan siap untuk melakukan tatap maya maka kita siapkan ruang virtualnya dan membagikan tautannya pada siswa. Di ruang tatap maya kita informasikan apa yang dimaksud dengan kesepakatan kelas dan apa tujuannya. Setelah itu kita bisa berikan contoh kesepakatan, misalnya "kami siap mengikuti pembelajaran tepat waktu". Selanjutnya siswa akan mengutarakan idenya bisa secara langsung atau melalui kolom chat. Guru bersama siswa mengulas ide yang disampaikan oleh siswa kemudian dijadikan suatu kesepakatan kelas. 

Saat mengajak siswa membuat kesepakatan, guru harus mampu menyampaikan tujuan dari dibuatnya kesepakatan kelas. Apalagi dalam suasana tatap maya dan sudah masuk waktu libur kenaikan kelas. Guru meminta bantuan siswa dengan bahasa yang baik dan sopan serta jelas. Saat membahas ide kesepakatan yang diutarakan oleh siswa, guru berusaha mengarahkan dan mengartikan maksud pernyataan siswa sampai menjadi kesepakatan kelas. Siswa menyambut baik pembuatan kesepakatan kelas ini dan menyatakan siap melaksanakan seandainya bertemu dalam pembelajaran nantinya. 

Untuk memulai sesuatu yang baru dan pada masa libur kenaikan kelas seperti ini, diperlukan kerja yang cukup keras. Guru harus bisa berkomunikasi yang baik agar siswa mau diajak membuat kesepakatan di masa liburan. Belum lagi kelas yang akan diajar belum pasti karena jadwal mengajar belum rampung.  Tapi saat kita bersungguh-sungguh pasti ada siswa yang bersedia diajak berkolaborasi membuat kesepakatan kelas yang bisa diterapkan seandainya benar-benar bertemu dalam pembelajaran.

Berikut ini adalah dokumentasi dari kegiatan penyusunan kesepakatan kelas bersama siswa kelas XII MIPA 7 yang saya lakukan lewat tatap maya google meet. 

Gambar 1. Tangkapan layar saat tatap maya



Dalam tangkapan layar tersebut terlihat siswa yang berhasil diajak untuk membuat kesepakatan kelas. Memang tidak semua siswa bisa ikut dikarenakan ada yang sakit dan sebagian besar berada di luar rumah karena sedang liburan sehingga tidak bisa mengikuti tatap maya. Pada gambar 2 dapat dilihat  hal-hal yang dituiskan siswa seperti misalnya " saya akan belajar dengan lebih baik dan lebih aktif" ada  pula yang menuliskan "saya akan belajar dengan rajin dan semangat". Selain lewat kolom chat, siswa juga menyampaikan pendapatnya secara langsung saat tatap maya seperti misalnya "saya akan mengumpulkan tugas tepat waktu tapi dengan harapan waktu pengerjaan tugas ditambah".

Gambar 2. Tangkapan layar kolom chat saat tatap maya 

Selanjutnya lewat diskusi bersama dihasilkanlah "Kesepakatan Kelas Kimia Bersama Bu Rani"


 

Selasa, 15 Juni 2021

PRAKTIKUM KIMIA BERBASIS LINGKUNGAN TEMPAT TINGGAL SISWA (HOME BASED CHEMISTRY PRATICUM)


Praktikum adalah kegiatan belajar dalam bentuk pengamatan, percobaan atau pengujian suatu konsep atau prinsip materi yang dilakukan di dalam atau di luar laboratorium. Praktikum merupakan suatu kegiatan yang penting untuk dilakukan, terlebih lagi dalam proses pembelajaran yang membutuhkan pembuktian seperti mata pelajaran kimia. Melalui praktikum, siswa juga dapat mengasah kemandirian, berpikir kritis, dan kolaboratif. Berdasarkan pengalaman, praktikum juga sering menjadi stimulus bagi siswa dengan kemampuan rata-rata untuk mengembangkan kompetensinya. Sering saya jumpai siswa dengan kemampuan rata-rata (dilihat dari nilai ulangan harian) dalam teori kimia justru menunjukkan perfoma yang baik dalam merangkai alat praktikum, dalam melakukan proses praktikum ataupun saat melaporkan praktikumnya (misal lewat video). Seringkali siswa yang luput dari perhatian kita saat pembelajaran teori di dalam kelas akan menunjukkan auranya saat melakukan praktikum. 

Praktikum kimia tidak boleh hanya terpaku pada alat dan bahan yang ada di laboratorium kimia sekolah. Lingkungan di sekitar kita juga dapat dijadikan sebagai laboratorium. Apalagi untuk masa PJJ di masa pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, disaat siswa tidak bisa hadir ke sekolah maka lingkungan di sekitar tempat tinggalnya dapat dijadikan laboratorium. Alat dan bahan praktikum dapat ditemukan di rumah, di lingkungan sekitar rumah, di warung atau toko dekat rumah siswa. Kondisi PJJ tidak akan menjadi halangan bagi siswa untuk terus belajar dan berkreativitas.

Banyak topik kimia yang dapat dipraktikkan melalui kegiatan praktikum berbasis lingkungan tempat tinggal siswa (home based practicum).

  1. Membuat model bentuk molekul. Bahan yang digunakan adalah plastisin warna-warni dan tusuk gigi atau tusuk sate. 
  2. Menguji larutan elektrolit dan nonelektrolit. Bahan yang diperlukan adalah larutan gula, larutan garam, air keran, air sumur, air sungai, minuman bersoda, dan larutan lain yang dijumpai di lingkungan rumah. Alat yang diperlukan adalah gelas plastik atau gelas kaca, kabel, batre dan bola lampu kecil. 
  3. Menentukan reaksi eksoterm dan endoterm. Bahan yang diperlukan adalah air, karbid, soda kue dan cuka. Alat yang diperlukan adalah gelas dan pengaduk. 
  4. Menentukan pengaruh faktor-faktor penentu laju reaksi. Bahan yang diperlukan adalah air dan tablet CDR, cangkang telur dan cuka, air (dingin, normal, hangat) dan tablet CDR dan balon. Alat yang diperlukan adalah gelas dan pengaduk. 
  5. Memperkirakan pH dari larutan dalam kehidupan sehari-hari. Bahan yang diperlukan adalah berbagai larutan yang ditemui di rumah dan ekstrak kol ungu. Alat yang diperlukan adalah gelas. 
  6. pH buffer . Bahan yang diperlukan adalah minuman bersoda yang tak berwarna, cuka, air, larutan kapur sirih dan ekstrak kol ungu. Alat yang diperlukan adalah gelas dan sendok.
  7. Kelarutan. Bahan yang diperlukan adalah garam dan air. Alat yang diperlukan adalah gelas dan sendok. 
  8. Membuat koloid dan menunjukkan sifat-sifatnya. Bahan yang diperlukan adalah air, serbuka agar-agar, susu, santan atau bahan koloid yang lain, cuka. Alat yang diperlukan adalah panci, pengaaduk, cetakan, gelas baskom, senter dan alat lain yang diperlukan. 
  9. Penurunan tekanan uap. Bahan yang diperlukan adalah air dan garam. Alat yang diperlukan adalah gelas, penutu gelas/ plastik, dan karet. 
  10. Penurunan titik beku. Bahan yang diperlukan adalah bahan untuk membuat es putar, es batu, garam dapur. Alat yang diperlukan plastik, kaleng, gelas dan baskom. 
  11. Kenaikan titik didih. Bahan yang diperlukan adalah air, garam atau gula. Alat yang diperlukan adalah kompor, panci dan stopwatch. 
  12. Tekanan osmotik. Bahan yang diperlukan adalah timun atau wortel, garam dan air. Alat yang diperlukan adalah gelas. 
  13. Uji amilum. Bahan yang diperlukan adalah berbagai bahan makanan yang ingin diuji seperti nasi, singkokng rebus, ubi rebus, jagung rebu, atau bahan makanan yang lain sesuai keinginan, larutan iodin. Alat yang diperlukan adalah piring atau mangkok dan sendok. 
Melalui kegiatan praktikum berbasis lingkungan tempat tinggal siswa diharapakan tercapai tujuan-tujuan berikut:
  1. Siswa dapat membuktikan secara langsung teori yang sudah dipelajari.
  2. Siswa mengetahui bahwa banyak peristiwa atau fenomena yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari berkaitan dengan teori kimia. 
  3. Menumbuhkan berpikir kritis saat siswa merangkai praktikum, mengolah hasil, menghubungkan dengan teori yang telah dipelajari dan membuat kesimpulan dari praktikum yang dilakukan. 
  4. Menumbuhkan kemandirian dalam bentuk mencari prosedur praktikum sendiri, menyiapkan alat dan bahan, melaksanakan praktikum sendiri (kondisi PJJ), dan melaporkan sendiri. 
  5. Menumbuhkan kreativitas siswa dalam bentuk mengartikan dan mengadopsi serta memodifikasi (jika perlu) prosedur praktikum, kemudian dalam melaporkan praktikum (misal dalam bentuk video) akan terasah kreativitas mengedit video. 
  6. Meningkatkan kolaborasi antar siswa. Dalam kondisi PJJ kolaborasi siswa dapat terjadi secara daring, dimana siswa berbagi informasi dalam menyusun praktikum atau melaporkan praktikum. 
Berikut ini adalah beberapa dokumentasi siswa SMA Negeri 2 Tabanan yang saya ajar saat melakukan praktikum berbasis tempat tinggal di rumah pada tahun pelajaran 2020/ 2021. 
1. Video praktikum memperkirakan pH larutan dengan indikator kol ungu (topik kimia kelas XI semester 2)
2. Video praktikum uji larutan elektrolit dan nonelektrolit. Topik kimia kelas X smester 2. 
3. Video praktikum penurunan titik beku. Topik kimia kelas XII semester 1. 

Kegiatan ini akan terus berlanjut untuk tahun pelajaran berikutnya baik itu pada kondisi PJJ atau tatap muka. Jika dalam PJJ maka sepenuhnya alat, bahan dan praktikum dilakukan di rumah siswa masing-masing. Sedangkan jika tatap muka maka bahan yang diperoleh dari lingkungan tempat tinggal siswa akan dibawa ke laboratorium sekolah. 



---Our "Chemistry" Class---

Jumat, 11 Juni 2021

VISI GURU PENGGERAK

Our "Chemistry" Class, inilah gambaran yang saya buat untuk menunjukkan suasana kelas yang saya harapkan. Chemistry dapat diartikan sebagai kimia (mata pelajaran kimia) merupakan mata pelajaran yang saya ampu sejak tahun 2009. Selaian itu kata "chemistry" juga saya gunakan untuk menunjukaan bahwa adanya ketertarikan siswa saya terhadap proses pembelajaran yang diikutinya. Dengan adanya chemstry dari dalam diri siswa dan guru maka akan tercipta suasana belajara yang menyenangkan, membahagiakan dan bermakna.   

Visi yang saya miliki adalah:

---Menciptakan kelas bahagia dan pembelajaran bermakna untuk mewujudkan peserta didik yang beriman, mandiri dan berdaya saing global---

Visi ini mendukung Visi SMA Negeri 2 Tabanan "Terwujudnya peserta didik yang beriman, mandiri, berdaya saing global dan berlandaskan Tri Hita Karana"

Saya percaya bahwa hal yang kita lakukan dalam suasana bahagia akan lebih lama berbekas di ingatan, selain itu lebih banyak materi dan lebih banyak hal yang dapat diserap oleh pikiran kita. Pembelajaran bermakna artinya setiap siswa mendapatkan manfaat, mengetahui sesuatu, atau menguasai sesuatu setelah mengikuti pembelajaran. Kemudian dari sana akan terbentuk insan-insan yang beriman, mandiri dan berdaya saing global. 

Untuk mencapai visi tersebut tentunya harus ada strategi yang kita lakukan dan pastikan strategi itu menyentuh setiap siswa yang ada di kelas sampai nantinya ke seluruh sekolah. 

Saya akan mulai dari strategi yang ingin saya terapkan di kelas saya yaitu menggunakan pendekatan Inkuiri Apresiatif BAGJA. Tujuan kegiatan yang akan saya lakukan adalah untuk memberikan perhatian yang sama kepada seluruh siswa saya. Agar tidak ada lagi siswa dengan kemampuan rat-rata yang luput dari perhatian karena terlalu fokus pada siswa kemampuan tinggi atau kemampuan rendah. 

BAGJA adalah model manajemen perubahan sekolah yang menggunakan pengalaman postif sebagai kekuatannya. BAGJA adalah akronim dari lima tahapan kegiatan yang meliputi: 

  1. (B) Buat Pertanyaan: merumuskan pertanyaan sebagai penentu arah. 
  2. (A) Ambil Pelajaran: mengumpulkan berbagai pengalaman positif yang telah dicapai di sekolah 
  3. (G) Gali Mimpi: menyusun narasi tentang kondisi ideal apa yang diimpikan dan diharapkan 
  4. (J) Jabarkan Rencana: merumuskan rencana tindakan tentang hal-hal penting apa yang perlu dilakukan 
  5. (A) Atur Eksekusi:memutuskan langkah-langkah yang akan diambil, siapa yang akan terlibat, bagaimana strateginya, dan aksi lainnya.

Bentuk kegiatan yang saya lakukan adalah praktikum kimia berbasis lingkungan tempat tinggal siswa, Adapun tahapan kegiatan yang menerapkan BAGJA adalah:   





Demikianlah pemaparan saya tentang visi saya dan rancangan strategi yang akan saya dunakan untuk mencapai vidsi . 


Minggu, 30 Mei 2021

AKSI NYATA


BELAJAR KIMIA BERMAKNA

LATAR BELAKANG 

Selama kurang lebih 6 tahun menjadi guru di SMA berbagai karakter dan kemampuan siswa saya temui di kelas. Untuk pelajaran saya yang sering dicap susah, menakutkan dan menyeramkan, banyak sekali reaksi-reaksi yang saya temukan saat mengajar. Di dalam kelas, ada siswa yang antusias, ada yang senang ketika saya mengajar, ada yang mengantuk, bahkan ada juga yang terlihat tidak senang. Jujur saya sudah berusaha mengakomodasi mereka semua. Agar siswa bisa saling melengkapi dan berkolaborasi, saya terapkan pembelajaran berkelompok.  Meskipun belum konsisten, saya juga memberikan kebebasan pada siswa saya terkait cara pembuatan tugas. Misalkan boleh membuat laporan tertulis, boleh juga membuat video untuk melaporkan kegiatannya. Saya tidak memaksakan agar semua siswa saya mahir kimia, saya tidak menuntut agar semua dapat nilai bagus. Tapi kadangkala ada momen dimana saya kehialngan kesabaran dan memaksa siswa saya untuk bisa kimia. Kedua hal tersebut sudah saya raskan dan sadri sejak dulu dan saat ini pun saya masih dalam proses penyempurnaan. Lewat diklat yang saya ikuti dan bertukar pikiran denganguru yang lain, saya belajar menyempurnakaan hal-jal tersebut. 

Namun ada hal yang baru saya sadari setelah mempelajari modul 1.1 dan mengikuti pembelajaran calon guru penggerak. Hal tersebut membuat saya tertegun dan menarik nafas panjang. Selama ini yang saya anggap benar adalah yang penting siswa ikut proses pembelajarannya, yang penting sudah mengerjakan tugas, sudah menjawab soal, sudah hadir dalam google meet itu cukup. Siswa tidak perlu mahir di bidang kimia, yang penting ikut proses dan mereka tidak terbebani. Tapi apakah mereka mendapat manfaat dari proses tersebut? Apakah bermakna bagi mereka proses tersebut? Sungguh saya cuek dengan hal tersebut dan dipikiran saya yang penting siswa sudah melewati materi itu.  Tapi apakah itu benar? Tidak adakah siswa yang ingin merasakan manfaat dari materi kimia yang dipelajari? Adakah manfaat yang dirasakan dari proses pembelajaran kimia? Apakah pembelajaran saya sudah bermakna. 

Bergerak dari kesadaran saya itu, aksi nyata pertama yang saya lakukan adalah menelusuri perasaan siswa saya untuk mengetahui adakah manfaat yang mereka dapatkan dari pembelajaran saya. 


Tahap perencanaan : menyusun RPP pembelajaran kimia di kelas XI

Aksi nyata I:

  • Pada tahap pendahuluan guru mengadakan asesmen nonkognitif awal pada siswa dengan meminta siswa menjelaskan perasaanya dengan sebuah gambar.

  • Sambil melihat gambar yang dibuat siswa, guru memberikan komentar, menyemangati, memotivasi siswa dan mengkondisikan siswa agar siap mengikuti pembelajaran. 

  • Pada akhir pembelajaran guru mengajak siswa melakukan refleksi dengan meminta siswa menuliskan 3 hal yang siswa dapat/ siswa ketahui setelah mengikuti pembelajaran pada hari tersebut. Guru akan menggunakan aplikasi padlet. 

  • Sambil siswa mengisi refleksi, guru membacakan tulisan yang sudah masuk sambil mengomentari dan mengapresiasi pencapain siswa pada hari itu. 

Aksi nyata II:

  • Pada tahap pendahuluan guru mengadakan asesmen nonkognitif dan kognitif awal pada siswa dengan meminta siswa memberikan pujian pada dirinya sendiri serta menjawab beberapa pertanyaan kognitif awal. 

  • Guru mengajak siswa melakukan refleksi dengan meminta siswa menuliskan 3 hal yang siswa dapat/ siswa ketahui setelah mengikuti pembelajaran pada hari tersebut. Guru akan menggunakan aplikasi padlet.

Dalam aksi nyata I dan II ini saya merencanakan menerapkan nilai berpihak pada murid yang mencerminkan filosofi KHD menghamba pada anak. 

Tahap Penerapan : pembelajaran kimia di kelas XI MIPA 7

Aksi nyata I 28 April 2021:

Beberapa contoh gambar yang dikirimkan siswa untuk menunjukkan perasaannya sebelum memulai pembelajaran. 



Sambil melihat gambar yang dikirim siswa, saya menanyakan kenapa perasaan siswa seperti pada gambar. Saya pun melontarkan semangat kepada siswa saya terutama yang perasaannya kurang bahagia. 

Selanjutnya pembelajaran berlangsung sesuai rencana dan pada hari itu saya menggunakan google meet dan materi yang kami bahas adalah titrasi asam basa.

Pada kegiatan penutup sesuai dengan rencana, saya mengajak siswa melakukan refleksi pembelajaran. Saya meminta siswa menuliskan 3 hal yang siswa peroleh dari pembelajaran pada hari itu.





Dengan refleksi ini saya ingin memastikan bahwa ada hal yang siswa peroleh atau ketahui dari kegiatan pembelajaran dengan google meet. Selain itu pada bagian refleksi siswa juga menyampaikan apa hal yang belum dikuasai setelah belajar pada sesi tersebut. Hal yang paling membahagiakan adalah ada siswa yang menyatakan bahwa pembelajaran hari itu menyenangkan.


Aksi Nyata II 5 Mei 2021:

Siswa mengisi google form yang merupakan asesmen nonkognitif dan kognitif awal untuk siswa. Sebagai asesmen nonkognitif, siswa mengisi kalimat pujian untuk dirinya sendiri. Dari tulisan yang dibuat oleh siswa muncul kalimat-kalimat yang menyentuh dan pujian untuk semua pencapaian yang telah berhasil dicapai oleh tiap siswa. Saya berusaha memotivasi dan meningkatkan rasa percaya diri, rasa kebanggaan pada diri siswa sehingga akan lebih bersemangat untuk mengikuti pembelajaran.




Selanjutnya di akhir pembelajaran guru tetap meminta siswa untuk melakukan refleksipembelajaran untuk mengetahu apa saja yang siswa ketahui/peroleh dari proses pembelajaran yang dilakukan lewat LMS. 



Saya pun memantau progres pembelajaran siswa di LMS, ternyata ada sedikit permasalahan yaitu sepertinya siswa terlalu fokus saat mengisi asesmen kognitif awal. Padahal di forum chat sudah saya jelaskan bahwa asesmen kognitif awal agar diisi sesuai dengan apa yang diketahui/diingat oleh siswa karena tujuannya untuk mengecak kemampuan awal siswa. Namun siswa justru ingin menampilkan yang terbaik sampai akhirnya mereka menghabiskan 1 jam pelajaran untuk mengisi asesmen tersebut. Pada jam kedua akhirnya siswa baru mengeksplorasi materi di LMS. Hal ini juga dapat saya lihat pada refleksi di akhir pembelajaran dimana sebagian siswa baru mempelajari beberapa bagian dari materi yang disajikan pada LMS.

Tahap Refleksi
Aksi nyata di kelas XI MIPA 7 hanya bisa saya lakukan 2 kali karena terbentur dengan waktu yang sudah memasuki akhir semester 2 selain itu ada libur hari raya. Kegiatan asesmen nonkognitif dan kognitif awal akan terus saya lakukan di pembelajaran yang selanjutnya. Hanya saja harus saya jelaskan lebih detail tujuan dari asesmen kognitif awal sehingga siswa benar-benar mengisinya sesuai apa yang mereka ketahui/ingat. Sehingga tujuan untuk mengetahui modal awal siswa terkait suatu materi benar-benar valid. Selain itu ketika siswa terlalu terpaku dengan asesmen kognitif awal akan mengurangi waktu siswa untuk masuk ke materi inti yang seharusnya dipelajari. Tapi jika terjadi pembelajaran tatap muka atau daring dengan video conference hal tersebut dapat diatasi dengan kontrol waktu yang saya terapkan.

Menurut saya ada asesmen nonkognitif awal menanyakan perasaan siswa, sapaan hangat di awal pembelajaran, dan memberi motivasi telah memberikan vibrasi belajar yang positif bagi siswa. Menciptakan atmosfer belajar yang nyaman bagi siswa adalah salah satu wujud menghamba pada anak/ berpihak pada murid.

Refleksi di akhir pembelajaran memberi kesempatan bagi siswa mengungkapkan apa yang sudah dipelajari, diketahui, dikuasai dan yang belum dikuasai. Jika dimanfaatkan dengan baik hasil refleksi ini akan bermanfaat untuk mengatur pembelajaran selanjutnya, mengatur kecepatan dalam pembelajaran dan dapat membuat kita memberi fokus yang lebih pada siswa yang susah menerima materi kimia. Sayangnya pada aksi nyata kali ini belum bisa saya lakukan dengan maksimal. Tapi akan saya jadikan pengalaman untuk tahun pelajaran berikutnya dan akan mulai saya laksanakan dari pertemuan pertama pada tahun pelajaran berikutnya.

Demikianlah aksi nyata yang saya lakukan terkait nilai berpihak pada murid yang mencerminkan filosofi KHD menghamba pada anak.

Jumat, 28 Mei 2021

NILAI DAN PERAN GURU PENGGERAK

"Guru Masa Depan (Future Teacher)" adalah gambaran yang saya buat tentang impian saya sebagai guru. Dalam ilustrasi tersebut saya menggambarkan sosok seorang guru dengan senyum yang mengembang, yang menunjukkan kecintaannya terhadap profesi dan siswa-siswanya. Di depan guru berdiri siswa-siswa dengan senyum dan perasaan merdeka dan bahagia. Di sisi kiri guru dan siswa terdapat gelembung nilai guru penggerak dan tujuan yang diharapkan oleh guru dan siswa yaitu Merdeka Belajar dan Profil Pelajar Pancasila. 
Bagaimana cara mencapai tujuan tersebut? 
Menginternalisasi nilai guru penggerak itulah jawabannya. 

Selain tujuan Merdeka Belajar dan mewujudkan Profil Pelajar Pancasila, penguasaan seorang guru terhadapa nilai dan peran guru penggerak juga akan mengantarkan seorang guru mencapai jenjang kompetensi guru tingkat "mahir". Kompetensi guru yang dimaksud adalah: 
1. Kategori pengetahuan profesional: 
  • menganalisis struktur dan alur pengetahuan untuk pembelajaran; 
  • menjabarkan tahap penguasaan kompetensi murid; dan 
  • menetapkan tujuan belajar sesuai dengan karakteristik murid, kurikulum, dan profil pelajar Pancasila
2. Kategori praktik pembelajaran profesional: 
  • mengembangkan lingkungan kelas yang memfasilitasi murid belajar secara aman dan nyaman; 
  • menyusun desain,melaksanakan, dan merefleksikan pembelajaran yang efektif; 
  • melakukan asesmen, memberi umpan balik, dan menyampaikan laporan belajar; dan 
  • mengikutsertakan orang tua/wali murid dan masyarakat dalam pembelajaran. 
3. Kategori pengembangan profesi: 
  • menunjukkan kebiasaan refleksi untuk pengembangan diri secara mandiri; 
  • menunjukkan kematangan spiritual, moral, dan emosi, untuk berperilaku sesuai kode etik guru; 
  • menunjukkan praktik dan kebiasaan bekerja yang berorientasi pada anak; 
  • melakukan pengembangan potensi secara gotong royong untuk menumbuhkan perilaku kerja; dan 
  • berpartisipasi aktif dalam jejaring dan organisasi profesi untuk mengembangkan karier. 

Lalu apa saja yang termasuk ke dalam nilai dan peran guru penggerak? 

Nilai menurut Rokeach, merupakan keyakinan sebagai standar yang mengarahkan perbuatan dan standar pengambilan keputusan terhadap objek atau situasi yang sifatnya sangat spesifik. Kehadiran nilai dalam diri seseorang dapat berfungsi sebagai standar bagi seseorang dalam mengambil posisi khusus dalam suatu masalah, sebagai bahan evaluasi dalam membuat keputusan, bahkan hingga berfungsi sebagai motivasi dalam mengarahkan tingkah laku individu dalam kehidupan sehari-hari. Melihat peranan nilai sangat penting dalam kehidupan tingkah laku sehari-hari, maka rasanya penting bagi seorang Guru Penggerak untuk bisa memahami dan menjiwai nilai-nilai dari seorang Guru Penggerak. Sebagai seorang Calon Guru Penggerak kita diharapkan dapat menginternalisasi nilai guru penggerak diantaranya: 
  1. Mandiri, yaitu mampu mendorong diri untuk melakukan aksi. 
  2. Reflektif, yaitu mampu senantiasa merefleksi dan memaknai pengalaman yang terjadi di sekelilingnya. 
  3. Kolaboratif, yaitu mampu membangun hubungan kerja yang positif terhadap seluruh pihak. 
  4. Inovatif, yitu mampu memunculkan gagsan-gagasan baru dan tepat guna terkait situasi tertentu atau masalah tertentu. 
  5. Berpihak pada murid, yaitu mengutamakan kepentingan murid, memahami kodrat anak dan menggali kebutuhan anak. 
Selain nilai guru penggerak, seorang guru juga harus memahami perannya sebagai guru dalam dunia pendidikan. Yang dimaksud dengan peran adalah perangkat tingkah yang diharapkan dimiliki oleh orang dalam masyarakat.Adapun peran guru penggerak adalah: 
  1. Menjadi pemimpin pembelajaran yang mendorong well-being ekosistem pendidikan di sekolah. 
  2. Menggerakkan komunitas praktisi untuk rekan guru di sekolah dan di wilayahnya. 
  3. Menjadi coach bagi guru lain terkait pengembangan pembelajaran di sekolah. 
  4. Mendorong kolaborasi antar guru. Membuka ruang diskusi positif dan kolaborasi antara guru dan pemangku kepentingan di dalam dan di luar sekolah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. 
  5. Mendorong peningkatan kemandirian dan kepemimpinan murid di sekolah. 
Ketika kita berbicara tentang nilai dan peran guru penggerak maka kita akan dihubungkan ke Filosofi Ki Hadjar Dewantara. Keterkaitan antara nilai dan peran guru penggerak dengan filosofo KHD adalah nilai dan peran guru penggerak merupakan aksi nyata guru dalam menerapkan filosofi pendidikan KHD. Dalam nilai dan peran guru penggerak tercermin filosofi KHD seperti menuntun, among, menghamba pada anak, permainan anak, dan guru adalah petani kehidupan. Misalkan kita ambil beberapa contoh nilai berpihak pada murid yang sangat mencerminkan filosofi menghamba pada anak. Inovasi pembelajaran yang gembira dan dinamis merupakan cermikan dari permainan anak. Peran seorang guru menjadi pemimpin pembelajaran yang mendorong well-being adalah cerminan dari filosofi menuntun, among, dan petani kehidupan. 
Untuk menguatkan nilai dan peran dalam diri saya maka saya harus memiliki suatu strategi dimana strategi tersebut saya singkat dengan PCO2: 
  1. Positive thinking ( berpikir positif) = selalu mengambil nilai postif dari setiap proses ataupun masalah. 
  2. Competent (kompeten) = selelu konsisten mengisi diri sehingga akhirnya makin kompeten dan makin dipercaya oleh rekan kerja sehingga dapat meningkatkan peran saya di lingkungan sekolah ataupun komunitas. 
  3. Open minded (berpikiran terbuka) = siap menerima segala masukan dan kritikan untuk menyempurnakan nilai dan peran saya sebagai guru. 
  4. Optimistic (optimis) = selalu optimis bahwa saya bisa berubah makin baik lagi, optimis bahwa saya bisa mengerjakan banyak hal baru, dan optimis bahwa sekecil apa pun perubahan yang saya lakukan akan memberikan efek bagi peningkatan pendidikan. 
Terlepas dari strategi yang saya miliki, peran pihak di sekitar saya pastinya sangat berpengaruh terhadadap penguasaan saya terkait nilai dan peran guru penggerak. Siswa dan rekan guru adalah rekan dalam berkolaborasi mencapai nilai dan peran guru penggerak. Dari siswa kita dilatih untuk selalu merefleksi diri, meningkatkan hal-hal yang sudah saya kuasai dan menyempurnakan yang belum dikuasai. Dari rekan sejawat saya dapat meniru jejak kesuksesan rekan guru dan teman untuk berdiskusi dan mencari pemecahan suatu masalah yang ditemui.Kepala sekolah sebagai pendukung dalam setiap kegiatan terutama dalam pengembangan diri. Keluarga juga memegang peranan penting sebagai pendukung dan pemberi restu dalam setiap kegiatan yang saya lakukan.

PEMIMPIN DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA

Dalam UU No 20 tahun 2003 dinyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa ...